Suaranusantara.media, TRENGGALEK — Suatu siang yang panas, seorang pria paruh baya sedang menggembalakan tiga ekor kerbau di padang rumput dekat muara sungai yang tidak jauh dari garis Pantai Kebo di Dusun Tengahan, Desa Ngulungwetan, Kecamatan Munjungan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Kerbau-kerbau itu dengan lahap menyantap rerumputan hijau yang tumbuh liar.
Kaki saya kemudian berjalan ke arah selatan sekitar 50 meter dari padang rumput. Mata saya terbelalak saat melihat pemandangan indah dari Pantai Kebo yang memiliki hamparan pasir putih yang bersih.
Selain memiliki pasir putih yang bersih, di sebelah barat dan timur pantai diapit dua perbukitan hijau yang menyegarkan pandangan. Bukit itu menjorok langsung ke arah laut, sehingga tampak menjadi gerbang megah yang membuat pantai tersebut semakin menawan.
Pada saat tertentu, pengunjung bisa secara langsung melihat aktivitas nelayan saat berburu ikan dengan metode tarik jaring pukat pantai. Seperti pada Sabtu (31/10/2026) siang, puluhan nelayan yang terdiri dari laki-laki dan perempuan bekerja sama menarik jaring yang sebelumnya telah disebar di laut. Mereka dengan penuh ketekunan menarik jaring dari lautan yang diharapkan membawa keburuntungan, berupa hasil tangkapan ikan yang banyak.
Potensi dan keindahan Pantai Kebo sudah dijaga secara turun temurun warga di pedalaman Trenggalek itu. Meski demikian, kawasan pantai ini mulai dikenal orang sebagai tempat wisata hidden gem sekitar enam tahun lalu atau 2020. Sebelum itu, Pantai Kebo hanya menjadi tempat bagi para nelayan mencari ikan dan para peternak menggembalakan kerbaunya.

Sebelum tahun 2020, sangat jarang kendaraan dari luar kota yang warawiri ke Pantai Kebo. Maklum, pantai tersebut berada di pedalaman, bahkan orang menyebutnya sebagai salah satu desa di ujung negeri karena berhadapan langsung dengan Samudra Hindia.
Dari pusat kota Trenggalek, jarak ke Pantai Kebo sekitar 63 kilometer. Sedangkan akses jalan menuju lokasi tersebut sangat terjal dan penuh tanjakan serta jalan menikung.
Meski mulai dikenal pada 2020, ternyata pantai di desa paling ujung selatan Jawa Timur tersebut kala itu masih sangat terbatas, mulai dari fasilitas hingga jumlah pengunjungnya.
Kondisi Pantai Kebo berubah signifikan saat kabel-kabel dari PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) mulai menyalurkan listrik di kawasan tersebut pada Oktober 2023 silam. Sejak saat itu, ekonomi berputar cukup konsisten dan bertumbuh di desa nelayan tersebut.
Perubahan kondisi itu disampaikan Sutoyo, salah satu pengelola wisata Pantai Kebo. Saat ditemui Sabtu lalu, dia bercerita PLN mulai menyambungkan jaringan listrik pada 2023. Sebelum itu, aktivitas pariwisata di Pantai Kebo sangat terbatas karena tidak ada penerangan maupun listrik.
“Dulu memang sudah ada warung-warung di pinggir pantai, tapi terbatas karena hanya lima warung dan jam bukanya pun sangat terbatas. Cuma sampai jam lima sore karena kalau malam di sini gelap,” ujar pria berusia 47 tahun itu.
Namun, setelah tersambung listrik, kondisi pantai berubah menjadi ramai. Pengunjung dari berbagai luar kota datang untuk berwisata. Kalau sebelumnya hanya puluhan pengunjung per pekan, saat ini pengunjung mencapai ratusan orang setiap pekan.
Bukan hanya itu, para pengunjung juga tertarik untuk bermalam di tenda di kawasan pantai. Kebutuhan itu ditangkap sebagai peluang bisnis. Hingga akhirnya pengelola menyediakan camping ground bagi para wisatawan yang akan bermalam di alam terbuka dengan pemandangan indah di pesisir selatan.
Perekonomian Desa Meningkat
Sutoyo menyampaikan keberadaan listrik di kawasan Pantai Kebo meningkatkan perekonomian masyarakat desa. Dalam tempo tiga tahun saja, warung yang berdiri di pesisir pantai dari hanya lima, kini menjadi 13 warung. Mereka menjual aneka makanan, minuman, hingga pakaian.
Napas ekonomi warung saat ini tidak hanya berhenti saat sore hari. Tetapi, keberadaan listrik memperpanjang waktu berjualan warung hingga malam hari. Bahkan, pada saat akhir pekan atau hari libur nasional, warung bisa buka hingga 24 jam.
“Karena sekarang kan sudah ada listrik, jadi para pedagang bisa berjualan 24 jam. Karena pada hari libur, biasanya banyak pengunjung kamping di sini,” ujarnya.
Potensi ini juga membuka peluang baru berupa persewaan alat kamping, seperti tenda, kompor portable, matras, sleeping bad, dan lainnya. Saat ini sudah ada ratusan unit tenda yang disediakan.
“Saat libur panjang akhir tahun, seluruh tenda bisa keluar semua, bahkan sampai kekurangan,” ujarnya.
Dari aktivitas ekonomi di pantai tersebut, kata Sutoyo, berdampak pada keterserapan tenaga kerja. Dari setiap warung, minimal ada dua orang yang bekerja, sehingga total tenaga kerja yang terserap setidaknya 26 orang.
Sedangkan dari persewaan tenda, juga menyerap puluhan orang tenaga kerja. “Kalau persewaan tenda saat musim liburan, itu juga banyak pemuda sini yang ikut bekerja. Mereka membantu mendirikan tenda,” ujarnya.

Sedangkan dari pengelolaan kawasan wisata, lanjut dia, setidaknya menyerap 26 orang tenaga kerja. Puluhan orang ini yang setiap hari menjadi petugas penarik retribusi parkir, petugas kebersihan, keamanan, dan lainnya.
“Mereka setiap bulan juga mendapatkan gaji bulanan, meskipun tidak banyak. Tetapi lumayan untuk tambahan penghasilan. Karena mereka juga masih bekerja menjadi nelayan maupun petani,” jelas dia.
Dengan tambahan penghasilan itu, perekonomian warga di Desa Ngulungwetan pun ikut berputar. Mereka masih bisa menghasilkan uang dari laut dan sawah, tetapi juga mendapatkan tambahan penghasilan dari Pantai Kebo.
Berhenti Merantau
Adalah Wiyono, salah satu warga di Desa Ngulungwetan yang mendapat dampak ekonomi di Pantai Kebo. Ia saat ini mengelola warung dan persewaan tenda di kawasan wisata tersebut.
Seperti penjelasan Sutoyo, pria yang akrab disapa Yono itu juga mengatakan pertumbuhan Pantai Kebo naik signifikan sejak listrik PLN masuk pada 2023.
Sebelum fokus berjualan di Pantai Kebo, pria berusia 41 tahun itu, bekerja di luar kota maupun luar pulau di perkebunan sawit. Ia sudah puluhan tahun merantau ke luar kota untuk mencari sesuap nasi bagi keluarganya.
Namun, setelah melihat peluang bisnis di Pantai Kebo, ia kemudian memutuskan untuk pulang kampung dan mendirikan warung.
“Pas awal buka warung ya sepi, karena memang belum ada listrik dan pantai ini belum banyak dikenal. Tapi setelah listrik masuk itu, pengunjung berangsur naik dan warung jadi ramai,” ujar dia saat ditemui di warungnya.

Sedangkan untuk tenda kemah, cerita dia, awalnya hanya mempunyai 10 unit saja pada 2024. Kemudian jumlahnya bertambah dan saat ini ia memiliki 35 unit tenda.
“Alhamdulillah, persewaan tenda cukup ramai saat malam minggu atau libur panjang,” ujar dia.
Dari berjualan di warung dan persewaan tenda, Yono mengaku bisa mengantongi omzet hingga jutaan rupiah setiap bulannya. Namun, yang paling berharga tentu bukan sekadar penghasilan itu, melainkan bisa berkumpul dengan anak dan istri di rumah.
Dia tidak perlu lagi dibayang-bayangi merantau di luar kota dan setahun sekali baru ketemu orang-orang tercintanya di kampung halaman. “Syukur alhamdulillah kami banyak berubah. Saya enggak merantau lagi, saya bisa berkumpul sama keluarga,” ungkapnya.
Nasib warga seperti Yono di Ngulungwetan sangat banyak. Mereka mencari kerja di luar desa atau luar kota untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun, sejak Pantai Kebo memiliki potensi ekonomi yang menjanjikan, banyak warga yang kemudian berhenti merantau dan bekerja di pantai.
Jadi Sumber PADes
Potensi ekonomi di Pantai Kebo tidak hanya dinikmati bagi warga yang berjualan dan menyediakan jasa, melainkan juga dinikmati masyarakat di Desa Ngulungwetan. Hal ini karena penghasilan dari pengelolaan pantai juga menjadi salah satu sumber dari Pendapatan Asli Desa (PADes).
Pengelola pantai, Sutoyo, mengungkap setiap tahun Pantai Kebo menyumbang untuk pendapatan desa sebesar 25% dari total pendapatan pantai.
Sedangkan pendapatan pengelolaan pantai, kata dia, dari berbagai sumber seperti retribusi parkir, retribusi warung, hingga biaya sewa tempat kamping bagi pengunjung yang akan berkemah di kawasan pantai.
“Kami belum menarik tiket masuk, masih gratis. Kami hanya menarik biaya parkir, untuk sepeda motor Rp5.000 dan mobil Rp15.000,” ujar dia.
Perangkat Desa Ngulungwetan, Neva Astrini, menyampaikan Pantai Kebo memang menjadi salah satu penyumbang PADes. Setiap tahun, setidaknya tempat wisata itu menyumbang sekitar Rp50 juta untuk kas desa.
Neva menyampaikan uang itu kemudian digunakan berbagai program untuk mendukung pembangunan desa dan kegiatan sosial. Dia mencontohkan anggaran tersebut dimanfaatkan untuk memperbaiki jalan ke pantai yang rusak hingga pelebaran jalan.

Selain itu, dana tersebut juga dimanfaatkan untuk memberikan santunan ke anak yatim, warga miskin, hingga menyediakan air bersih saat musim kemarau panjang bagi warga yang kekurangan air.
“Jadi, penghasilan Pantai Kebo ini benar-benar dirasakan sebagian besar masyarakat Desa Ngulungwetan,” kata dia.
Sumber pendapatan ini juga dimanfaatkan pengelola untuk menyediakan berbagai fasilitas penunjang, seperti untuk kebersihan, musala, toilet, dan lainnya.
“Bagi pemerintah desa, Pantai Kebo ini telah mengubah potret perdesaan yang dulunya desa miskin dan kini menjadi desa berdaya dan mandiri,” ungkap Neva.
Listrik Kembangkan Potensi Ekonomi Desa
Senior Manager Komunikasi dan Umum PLN UID Jawa Timur, Kemas Abdul Gaffur, menyampaikan pertumbuhan ekonomi di kawasan Pantai Kebo menjadi salah satu gambaran bahwa kehadiran listrik membuka peluang bagi pengembangan potensi ekonomi dan pariwisata masyarakat setempat.
Dia menuturkan awal pengembangan jaringan kelistrikan di kawasan tersebut, PLN menindaklanjuti permohonan masyarakat Dusun Krajan, Desa Ngulungwetan, untuk mendukung kebutuhan irigasi pertanian melaui program Electrifying Agriculture. Saat itu ada 20 pelanggan mendapatkan sambungan listrik dengan daya masing-masing 1.300 VA, sehingga total daya tersambung mencapai 26.000 VA.
Selain untuk kebutuhan irigasi, ternyata listrik di dusun tersebut dimanfaatkan untuk pengembangan kawasan wisata Pantai Kebo. Melihat potensi wisata Pantai Kebo, PLN kemudian mendukung dengan pengembangan kawasan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) berupa pemasangan papan nama Pantai Kebo yang kini menjadi salah satu ikon kawasan wisata tersebut.

Lebih lanjut, Kemas menuturkan seiring berkembangnya aktivitas masyarakat, jumlah pelanggan di kawasan tersebut pun meningkat dari 20 menjadi 44 pelanggan atau tumbuh sebesar 120%. Sedangkan total daya tersambung meningkat dari 26.000 VA menjadi 47.600 VA atau bertambah sekitar 83,1%.
“Kehadiran listrik diharapkan mampu membuka peluang usaha baru, mendukung pengembangan sektor pariwisata dan UMKM, serta meningkatkan produktivitas masyarakat. Bagi PLN, perluasan akses listrik hingga ke wilayah terpencil merupakan bagian dari upaya mendorong pemerataan pembangunan dan memberikan kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat untuk berkembang,” jelas dia kepada Espos, Kamis (5/11/2026).
Lebih lanjut, Kemas memaparkan sepanjang tahun 2025, PLN UID Jawa Timur telah merealisasikan program listrik desa dengan melistriki 142 dusun yang tersebar di 20 kabupaten/kota. Sebaran terbanyak berada di Kabupaten Bondowoso, Jember, dan Sampang.
Sedangkan untuk tahun 2026, PLN merencanakan perluasan program listrik desa untuk menjangkau 301 dusun yang tersebar di 24 kabupaten/kota di Jawa Timur.
“Tahun ini konsentrasi lokasi terbanyak ada di Kabupaten Jember, Bangkalan, dan Sampang,” jelas dia.
Kemas menuturkan kehadiran listrik memberikan peluang bagi masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup sekaligus mengembangkan potensi ekonomi di wilayahnya. Dari sisi ekonomi, akses listrik dapat mendukung tumbuhnya usaha produktif, meningkatkan aktivitas UMKM, serta membuka peluang pengembangan usaha berbasis potensi lokal.
“Kalau dari sisi sosial, listrik memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, mendukung kegiatan belajar anak-anak, menunjang kenyamanan dan kelancaran aktivitas ibadah di rumah ibadah, serta memperluas akses terhadap informasi dan teknologi,” terang dia.

Leave a Reply