Tak Selalu Menakutkan, Intip Tren dan Syarat Pelihara Ular ala KREZS Solo

Tak Selalu Menakutkan, Intip Tren dan Syarat Pelihara Ular ala KREZS Solo
Pengunjung berinteraksi dengan ular sanca berukuran besar milik anggota Komunitas Reptil Soloraya (KREZS) di Car Free Day (CFD) Jl. Slamet Riyadi, Solo, Minggu (20/9/2026). (Daerah/Dhima Wahyu Sejati)

Suaranusantara.media, SOLO — Memelihara reptil, khususnya ular, ternyata tidak semenakutkan yang dibayangkan. Namun, ada sejumlah syarat perawatan yang perlu diperhatikan agar ular aman dipelihara dan terbiasa berinteraksi dengan manusia.

Ketua Komunitas Reptile Zona Solo (KREZS), Affri Sugiyanto, mengatakan ular peliharaan relatif aman bagi masyarakat awam selama telah dirawat dan dibiasakan berinteraksi dengan manusia sejak kecil.

Selain itu, harga ular juga cukup beragam dan relatif terjangkau, tergantung jenis, ukuran, mutasi warna atau morph, hingga karakter bawaan hewan tersebut.

“Dari yang paling murah biasanya jenis retic [sanca kembang] versi normal. Setiap breeding pasti akan ada keluar versi normalnya,” katanya kepada Espos, Minggu (20/9/2026).

Affri menyebut harga ular jenis normal mulai Rp50.000. Sementara ular yang mengalami mutasi warna atau morph, seperti albino akibat kelainan genetik, harganya bisa mencapai Rp200.000 hingga jutaan rupiah.

Selain corak warna, karakter ular juga menentukan nilai jual. Menurut Affri, semakin jinak seekor ular, harganya bisa semakin mahal karena lebih aman dipelihara oleh masyarakat awam.

Sebaliknya, ular yang sudah lama dipelihara pun terkadang masih memiliki insting menyerang atau menggigit. Sebab, setiap hewan memiliki karakter masing-masing.

“Kalau makin jinak kami lebih percaya diri (pede) untuk dilepas ke orang awam. Semakin mereka terbiasa dipegang, tingkat stresnya makin kecil,” katanya.

Meski begitu, Affri menerangkan bahwa pada awalnya ular memiliki insting bertahan atau defense. Seiring berjalannya waktu, ular akan memahami bahwa sentuhan manusia tidak membahayakan.

Namun, hal itu menurut Affri hanya berlaku untuk ular yang sudah dipelihara sejak kecil. Sementara ular tangkapan liar yang sudah berukuran besar dinilai sulit dijinakkan karena insting liarnya telah terbentuk.

Pelihara Ular Butuh Komitmen

Meski menarik dan harga adopsinya relatif terjangkau, Affri mengingatkan bahwa memelihara reptil membutuhkan komitmen jangka panjang dan tidak boleh dilakukan setengah-setengah.

Salah satunya dengan menjaga kebersihan kandang. Menurut Affri, kebersihan menjadi bagian penting dalam perawatan ular.

“Reptil itu tidak suka bau, termasuk sangat tidak suka bau urinenya sendiri. Jadi kami selalu menyarankan untuk menjaga kebersihan kandang, itu saja,” tegas Affri.

Selain kandang, calon pemelihara juga harus siap mengeluarkan biaya untuk kebutuhan pakan. Porsi dan ukuran mangsa akan bertambah seiring dengan membesarnya ukuran ular.

“Untuk ular jenis retic berukuran sedang hingga besar, biasanya diberi pakan berupa kepala dan leher ayam,” katanya.

Sementara itu, untuk ular jenis Ball Python, Affri menyebut kebutuhan perawatannya dapat lebih menguras biaya karena membutuhkan pakan hidup seperti tikus putih.

Di luar persoalan biaya, calon pemelihara juga perlu memahami karakter hewan yang dipelihara. Hal itu penting agar interaksi antara manusia dan ular tetap aman.

Tren Memelihara Ular di Soloraya

Memelihara reptil ternyata mulai digemari berbagai kalangan di Soloraya. Affri mengatakan banyak warga yang awalnya sekadar membeli ular dengan harga ekonomis untuk belajar, kemudian tertarik lebih jauh hingga bergabung menjadi anggota KREZS.

Affri mengatakan pihaknya sengaja menyediakan ular dengan harga terjangkau dan karakter yang sudah proper atau aman sebagai sarana belajar menangani ular bagi pemula.

Ketertarikan warga tersebut turut memperluas jejaring KREZS. Saat ini, komunitas tersebut memiliki sekitar 30 personel aktif. Selain itu, masih ada calon anggota baru yang tergabung dalam group chamber.

Affri mengaku sengaja sedikit selektif dalam merekrut anggota baru untuk memastikan visi calon anggota selaras dengan KREZS. Apalagi, sejumlah calon anggota masih duduk di bangku sekolah.

“Khusus bagi calon anggota yang masih berstatus pelajar atau anak sekolah, wajib ada restu dari orang tua,” katanya.

Seleksi tersebut dilakukan agar tidak terjadi benturan pemahaman di kemudian hari. Terlebih, komunitas tersebut juga merambah kegiatan komersial untuk menopang biaya perawatan satwa milik KREZS.

“Fungsi kita berkomersial itu agar regenerasi hewan-hewan tetap terjaga. Dari hasil edukasi itu kami bisa beli lagi ular yang ukurannya lebih kecil dan aman sebagai sarana edukasi warga,” katanya.

Leave a Reply