Suaranusantara.media, SOLO – Mengenal teknologi tidak cukup hanya dengan menggunakannya. Siswa juga perlu memahami cara kerja, merancang, hingga menciptakan solusi teknologi yang bermanfaat. Semangat inilah yang dihadirkan SDICT Al Abidin Surakarta melalui kegiatan ICT Camp 2026 yang diikuti 210 siswa kelas 4, 5, dan 6 pada 30–31 Oktober 2026.
Mengusung tema “Mission: Build Smart Technology”, kegiatan selama dua hari ini memberikan pengalaman belajar langsung melalui praktik *Internet of Things (IoT), coding, dan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).
Kegiatan dibuka resmi oleh Kepala SDICT Al Abidin Surakarta, Nonik Nataliya, S.T., S.Pd., dengan membunyikan bel IoT yang terhubung melalui aplikasi Blynk. Pembukaan tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana teknologi dapat dikendalikan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Selanjutnya, siswa ditantang menyelesaikan misi teknologi secara berkelompok. Mereka melalui tahapan Technical Map, Engineering Logic, Build and Program, Test and Improve, hingga Expo. Prosesnya meliputi penyusunan rancangan, simulasi rangkaian menggunakan Tinkercad, perakitan komponen, pengujian alat, hingga presentasi hasil karya.
Tantangan disesuaikan dengan jenjang kelas. Siswa kelas 4 mengembangkan sistem sederhana menggunakan lampu, buzzer, dan push button. Kelas 5 mengeksplorasi sensor ultrasonik, sensor api, sensor suara, dan modul traffic light. Sementara itu, siswa kelas 6 merancang sistem berbasis sensor hujan, suhu, kelembapan tanah, dan cahaya.
Selain keterampilan teknis, siswa juga mengasah kemampuan berpikir komputasional melalui permainan CT Plugged. Aktivitas ini melatih konsentrasi, ketelitian, kemampuan mengenali pola, serta menyelesaikan masalah secara sistematis.
Menariknya, hujan deras selama kegiatan tidak mengurangi antusiasme peserta. Mereka tetap aktif berdiskusi, bekerja sama, melakukan pengujian, dan memperbaiki rancangan hingga misi kelompok berhasil diselesaikan.
ICT Camp 2026 juga menjadi sarana penguatan karakter melalui kegiatan salat tahajud, jalan sehat, fun cooking, serta kegiatan filantropi dengan berbagi kepada warga sekitar. Rangkaian aktivitas tersebut mengajarkan keseimbangan antara penguasaan teknologi, kemandirian, kebersamaan, dan kepedulian sosial.
Melalui kegiatan ini, siswa memperoleh pengalaman bahwa teknologi bukan sekadar perangkat yang digunakan, melainkan bidang yang dapat dipelajari dan dikembangkan untuk menjawab berbagai kebutuhan. Pembelajaran berbasis proyek seperti ini juga melatih kreativitas, kolaborasi, komunikasi, dan kemampuan memecahkan masalah sejak dini.
SDICT Al Abidin Surakarta berharap pengalaman tersebut menjadi bekal bagi siswa untuk tumbuh sebagai generasi yang adaptif, inovatif, dan mampu menciptakan teknologi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.(NA)

Leave a Reply