Karhutla di Lawu Diduga Disengaja, Perhutani Empat Kali Gagalkan Kebakaran

Karhutla di Lawu Diduga Disengaja, Perhutani Empat Kali Gagalkan Kebakaran
Kobaran api membakar hutan dan lahan (Karhutla) Gunung Lawu dari Gondosuli, Karanganyar, Senin (19/10/2026). Pemerintah Kabupaten Karanganyar menetapkan status tanggap darurat bencana kebakaran di Gunung Lawu, sementara berdasarkan data terakhir Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karhutla Gunung Lawu yang terbakar mencapai 130 hektare sementara itu upaya pemadaman masih terus dilakukan salah satunya dengan water bombing. (Daerah/J Howi Widodo).

Suaranusantara.media, KARANGANYAR — Perum Perhutani menduga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Lawu dipicu aktivitas manusia.

Dugaan itu menguat setelah petugas mengungkap telah empat kali menggagalkan potensi karhutla Lawu sepanjang September hingga Oktober 2026. Namun, pada kejadian keempat, api gagal dikendalikan hingga merembet ke puncak dan menghanguskan sekitar 800 hektare kawasan hutan.

Administrator Perum Perhutani KPH Surakarta, Agus Supriyanto Ganasari, mengatakan tiga potensi kebakaran sebelumnya berhasil dikendalikan. Sementara itu, kejadian keempat pada Oktober 2026 berujung pada kebakaran besar yang sulit dipadamkan akibat angin kencang.

Agus menyebut potensi kebakaran yang berulang tersebut menjadi perhatian Perhutani. Menurut dia, kebakaran tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas manusia, meskipun penyebab pasti karhutla di Gunung Lawu masih dalam penyelidikan. Aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran itu di antaranya pembuatan arang serta pembukaan dan pembersihan lahan dengan cara membakar.

“Sudah empat kali kami menggagalkan potensi kebakaran hutan ini. Tiga kali pada September, kemudian awal Oktober juga ada. Yang keempat kemarin, kami sudah berupaya melakukan pemadaman sekitar pukul 10.00 WIB, tetapi terkendala angin yang cukup besar sehingga api merembet sampai ke puncak,” kata Agus saat ditemui, Senin (26/10/2026).

Agus menjelaskan dari data, luas kawasan yang terdampak karhutla Lawu diperkirakan mencapai sekitar 800 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 100 hektare berada di wilayah Perhutani, sedangkan sisanya masuk kawasan Taman Hutan Raya (Tahura). 

Sejumlah vegetasi hutan hangus terbakar, antara lain rimba campur, puspa, dan cemara gunung. Kebakaran tersebut menyebabkan kerusakan vegetasi sehingga diperlukan upaya pemulihan kawasan hutan.

Setelah kebakaran terkendali, dia mengatakan Perhutani akan melakukan identifikasi dan pemetaan lahan terdampak. Hasil pemetaan tersebut menjadi dasar untuk menentukan langkah rehabilitasi hutan dan lahan (RHL). Agus mengatakan rehabilitasi direncanakan segera setelah proses identifikasi selesai. Perhutani berharap kegiatan pemulihan kawasan hutan tersebut dapat dilaksanakan pada 2027.

“Setelah ini kita lakukan identifikasi dan pemetaan. Kemudian, setelah kita identifikasi, kita lakukan kegiatan rehabilitasi lahan. Itu akan segera direncanakan dan diharapkan tahun depan sudah dilaksanakan rehabilitasi hutan dan lahan,” jelasnya.

Terkait dengan kondisi karhutla di kawasan Gunung Lawu, dia mengatakan saat ini relatif terkendali. Berdasarkan informasi pemantauan titik panas melalui aplikasi Sistem Pemantauan Karhutla (Sipongi), pada pagi hari sempat terdeteksi satu titik api berukuran relatif kecil di atas wilayah Desa Gondosuli. Namun, berdasarkan informasi yang diterimanya tidak ada titik api yang terdeteksi tersebut.

Dia mengapresiasi dukungan Pemerintah Kabupaten Karanganyar, TNI-Polri, relawan, dan petugas Perhutani dalam penanganan karhutla. Meski kondisi mulai kondusif, patroli tetap dilakukan untuk mengantisipasi munculnya titik api baru.

Agus menegaskan pencegahan kebakaran tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman ketika api sudah muncul. Sosialisasi kepada masyarakat mengenai bahaya pembakaran untuk pembuatan arang maupun pembukaan lahan perlu diperkuat.

Perhutani juga akan berkoordinasi dengan pemerintah desa dan kecamatan, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta jajaran petugas kehutanan untuk meningkatkan pengawasan kawasan hutan.

“Patroli itu napas kami. Sosialisasi kepada masyarakat juga penting, terutama terkait tindakan-tindakan yang berpotensi mengakibatkan kebakaran hutan dan lahan,” pungkasnya.

Leave a Reply