IKAFARI Gandeng Sido Muncul untuk Perluas Akses Riset Herbal bagi Industri Jamu

IKAFARI Gandeng Sido Muncul untuk Perluas Akses Riset Herbal bagi Industri Jamu
Ikatan Farmakologi Indonesia (IKAFARI) menghadirkan Direktur Utama PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk., Irwan Hidayat, sebagai pembicara dalam 2nd IKAFARI International Conference dan 4th International Conference on Health, Technology, and Life Sciences (ICOHELICS) 2026 di Harris Hotel & Convention Solo, Jumat (23/10/2026).

Suaranusantara.media, SOLO — Ikatan Farmakologi Indonesia (IKAFARI) menghadirkan Direktur Utama PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk., Irwan Hidayat, sebagai pembicara dalam 2nd IKAFARI International Conference dan 4th International Conference on Health, Technology, and Life Sciences (ICOHELICS) 2026 di Harris Hotel & Convention Solo, Jumat (23/10/2026). 

Dalam forum tersebut, Irwan menekankan pentingnya penelitian ilmiah untuk mengembangkan potensi tanaman obat Indonesia dan memperluas pemanfaatannya, termasuk bagi pelaku usaha jamu skala kecil.

Konferensi yang berlangsung pada 22–23 Oktober 2026 tersebut mengangkat tema Advancing Clinical and Pharmacological Innovations to Achieve the SDGs: Tackling Obesity, Metabolic Disorders, and Diabetes for Global Health Equity. Forum ini mempertemukan kalangan akademisi, dokter, farmakolog, dan mahasiswa untuk membahas perkembangan penelitian di bidang kesehatan, teknologi, dan ilmu hayati.

Dalam paparannya, Irwan menjelaskan bahwa Sido Muncul mulai memperkuat standardisasi dan pengujian produk sejak 2002. Upaya tersebut dilakukan untuk membangun landasan ilmiah dalam pengembangan produk berbahan tanaman obat.

“Pada 2002, pabrik kami selesai dibangun sehingga kami bisa melakukan standardisasi. Setelah itu, kami mulai melakukan uji praklinis dan uji toksisitas. Produk pertama yang kami uji toksisitas adalah Tolak Angin,” jelasnya.

Menurut Irwan, pengujian merupakan bagian penting untuk memperoleh bukti mengenai keamanan dan potensi manfaat produk berbahan alami.

“Yang penting, kami mendapatkan bukti. Itu yang kami lakukan,” tegasnya.

Ia mengatakan, pengembangan jamu perlu didukung penelitian agar potensi tanaman obat dapat dipahami secara lebih terukur. Indonesia memiliki beragam bahan alami yang berpeluang dikembangkan, tetapi pemanfaatannya perlu disertai informasi ilmiah yang memadai.

“Kalau mereka punya temulawak, mereka bisa melihat hasil penelitian mengenai khasiatnya. Dengan begitu, mereka bisa menjelaskan kepada konsumennya berdasarkan referensi yang tersedia,” ujarnya.

Irwan menjelaskan, Sido Muncul membentuk tim penelitian yang melibatkan sejumlah perguruan tinggi, di antaranya Universitas Sanata Dharma dan Universitas Sebelas Maret (UNS). Hasil kajian tersebut dihimpun dan dipublikasikan melalui situs Sido Herbal Media.

Menurut dia, publikasi hasil penelitian diharapkan dapat memperluas akses informasi, termasuk bagi pelaku usaha jamu skala kecil yang memiliki keterbatasan sumber daya untuk melakukan penelitian sendiri.

“Tujuannya supaya usaha-usaha kecil ini bisa ikut berkembang. Mereka bisa memiliki dasar ilmiah untuk produk yang dibuat. Jangan sampai hanya beberapa pengusaha yang bisa berkembang. Harapannya, semuanya bisa ikut berkiprah dan memajukan industri jamu bersama-sama,” ungkap Irwan.

Ia berharap akses terhadap hasil penelitian juga mendorong pemanfaatan tanaman obat Indonesia secara lebih luas.

“Obat-obat alami Indonesia ini diharapkan akan semakin banyak digunakan karena semakin banyak orang yang mengetahui manfaatnya,” tuturnya.

Dalam paparannya, Irwan juga menyampaikan rencana penambahan penelitian terhadap sekitar 200 bahan pada November mendatang. Dengan penambahan tersebut, jumlah bahan yang terdokumentasi ditargetkan mencapai 269.

“Ada bahan yang kami coba, tetapi ternyata tidak memberikan pengaruh. Dari situ kami mendapatkan informasi. Yang penting, kami mengetahui hasilnya. Proses penelitian perlu dilakukan dengan terbuka terhadap berbagai kemungkinan hasil. Pengembangan produk tidak cukup hanya mengandalkan klaim manfaat, tetapi juga membutuhkan pengujian yang sesuai,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Panitia, dr. Ratih Puspita Febrinasari, menjelaskan bahwa konferensi tersebut menjadi ruang bagi kalangan akademisi untuk memperluas pembahasan ilmu pengetahuan, termasuk menghubungkan penelitian dengan kebutuhan industri.

Ratih menyoroti pentingnya komunikasi dan kerja sama antara akademisi dan industri agar hasil penelitian tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi juga memberikan wawasan baru dan berpeluang dikembangkan lebih lanjut.

“Komunikasi tidak hanya dilakukan di lingkungan akademik, tetapi juga sampai pada bagaimana bekerja sama dengan industri,” ujarnya.

Menurut Ratih, pertukaran pengetahuan dan pengalaman dalam forum ilmiah diharapkan dapat memberikan perspektif baru bagi para peserta, terutama mengenai tahapan pengembangan hasil penelitian hingga berpotensi diterapkan.

“Harapannya, dari kerja sama tersebut bisa muncul wawasan terbaru, sampai akhirnya hasil penelitian dapat dikembangkan dan dipasarkan,” jelasnya.

Ratih mengatakan, peserta konferensi berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa hingga tenaga profesional di bidang kesehatan dan farmasi. Mahasiswa yang hadir juga berasal dari berbagai jenjang pendidikan, termasuk S1, S2, dan S3.

“Melalui konferensi ini, IKAFARI mendorong pertukaran pengetahuan dan kolaborasi antara akademisi dan industri untuk mendukung penelitian di bidang kesehatan serta pengembangan produk berbahan alami. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperluas pemanfaatan hasil penelitian dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” tuturnya.

Leave a Reply