Suaranusantara.media, PURWOKERTO—Kaprodi Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Hastin Tri Utami, mempresentasikan riset tentang penerimaan layanan cardless withdrawal Bank Syariah Indonesia (BSI) dalam International Conference on Islamic Finance and Banking Education di Mataram, Kamis (17/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rinjani, Hotel Jayakarta Mataram, tersebut diselenggarakan oleh Asosiasi Program Studi Keuangan dan Perbankan Syariah seluruh Indonesia.
Layanan cardless withdrawal merupakan salah satu inovasi digital perbankan yang memungkinkan nasabah melakukan penarikan tunai tanpa kartu fisik. Layanan tersebut menjadi fokus riset Hastin untuk melihat penerimaan pengguna terhadap layanan digital perbankan syariah.
Dalam forum ilmiah tersebut, Hastin mempresentasikan artikel berjudul “The Influence of Diffusion of Innovation Characteristics on Intention to Use Cardless Withdrawal at Bank Syariah Indonesia.” Penelitian itu mengkaji pengaruh karakteristik inovasi dalam perspektif Diffusion of Innovation terhadap niat masyarakat menggunakan layanan penarikan tunai tanpa kartu pada BSI.
Hastin menjelaskan transformasi digital pada industri perbankan tidak sekadar menghadirkan produk dan layanan baru. Digitalisasi juga menghadirkan tantangan mengenai bagaimana masyarakat menerima, mempersepsikan, dan menggunakan inovasi tersebut.
Untuk diketahui, layanan cardless withdrawal menjadi salah satu bentuk inovasi yang memberikan alternatif bagi nasabah untuk melakukan penarikan tunai tanpa menggunakan kartu ATM secara langsung.
Namun, kehadiran teknologi baru tidak serta-merta membuat masyarakat bersedia menggunakannya. Persepsi pengguna terhadap karakteristik sebuah inovasi turut menjadi bagian penting dalam proses penerimaan teknologi.
Melalui pendekatan Diffusion of Innovation, penelitian Hastin melihat karakteristik inovasi sebagai salah satu aspek untuk memahami niat masyarakat dalam menggunakan layanan cardless withdrawal.
Perkembangan Teknologi Perbankan
Pendekatan tersebut memberikan perspektif bahwa keputusan seseorang untuk menerima inovasi tidak hanya berkaitan dengan keberadaan teknologi, tetapi juga bagaimana calon pengguna memandang dan merasakan manfaat dari inovasi tersebut.
“Perkembangan teknologi perbankan perlu diikuti dengan pemahaman mengenai bagaimana masyarakat menerima dan mempersepsikan inovasi tersebut. Jadi, bukan hanya berbicara mengenai teknologinya, tetapi juga mengenai pengguna,” kata Hastin dalam pemaparannya.
Menurut Hastin, kajian mengenai perilaku pengguna menjadi penting karena keberhasilan transformasi digital perbankan pada akhirnya juga berkaitan dengan tingkat penerimaan masyarakat terhadap layanan yang ditawarkan.
Hastin mengatakan penelitian mengenai inovasi digital semakin relevan seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan keuangan yang praktis, cepat, dan mudah diakses.
Perbankan syariah perlu mengikuti perkembangan teknologi sekaligus mempertahankan karakteristik serta prinsip yang menjadi landasan operasionalnya. Karena itu, pemahaman terhadap perilaku pengguna dapat menjadi salah satu bahan dalam mengembangkan strategi layanan perbankan syariah.
Dia juga menilai perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mendorong penelitian yang menghubungkan teori akademik dengan persoalan aktual di industri keuangan syariah.
Bagi akademisi dan mahasiswa perbankan syariah, digitalisasi tidak hanya perlu dilihat sebagai perkembangan teknologi. Fenomena tersebut juga berkaitan dengan perilaku konsumen, karakteristik inovasi, strategi bisnis, serta arah perkembangan industri keuangan syariah.
“Penelitian seperti ini menjadi ruang untuk melihat perkembangan teknologi dari sisi akademik sekaligus memahami kebutuhan pengguna dalam industri perbankan syariah,” ujarnya.
Keikutsertaan Hastin dalam konferensi internasional tersebut sekaligus memperluas ruang diseminasi penelitian di bidang keuangan dan perbankan syariah.
Perkembangan Industri Keuangan Syariah
International Conference on Islamic Finance and Banking Education mempertemukan akademisi dan insan pendidikan dari program studi keuangan dan perbankan syariah untuk membahas perkembangan pendidikan serta industri keuangan syariah.
Forum tersebut menjadi ruang pertukaran gagasan dan hasil penelitian sekaligus membuka peluang pengembangan jejaring akademik dan kolaborasi antarprogram studi keuangan dan perbankan syariah di Indonesia.
Bagi Hastin, forum ilmiah seperti ini penting untuk memastikan penelitian di perguruan tinggi tetap memiliki keterkaitan dengan perkembangan industri.
Riset mengenai niat penggunaan cardless withdrawal pada Bank Syariah Indonesia menunjukkan bahwa isu digitalisasi perbankan dapat dikaji melalui perspektif perilaku pengguna dan teori inovasi.
Kajian tersebut sekaligus memperkuat kontribusi akademik dalam memahami perkembangan layanan perbankan syariah yang semakin berorientasi pada teknologi dan kebutuhan masyarakat. (NA)

Leave a Reply