Suaranusantara.media, BOYOLALI — Warga Dukuh Kapurancak RT 003 RW 004, Desa Kopen, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali, menggelar tradisi Rancak Gringsingan menjelang malam 1 Suro atau 1 Muharam, Senin (15/6/2026). Tradisi yang telah berlangsung turun-temurun itu menjadi simbol tolak bala sekaligus bentuk kepedulian terhadap alam dan sumber daya lingkungan.
Suasana kampung berubah temaram saat seluruh lampu rumah dan penerangan jalan dipadamkan. Sebagai gantinya, warga menggunakan obor untuk menerangi jalannya prosesi.
Rangkaian kegiatan diawali dengan doa dan zikir bersama. Setelah itu, warga berjalan mengelilingi dukuh tanpa mengenakan alas kaki sambil membawa obor menuju salah satu sumber mata air tertua di wilayah tersebut. Usai prosesi di mata air, warga kembali ke lokasi awal untuk melaksanakan doa bersama dan makan bersama.
Penyelenggara kegiatan, Faried Burhannudin, mengatakan tradisi tersebut mengusung tema Ruwat Rawat Rancak Gringsingan. Tradisi itu rutin digelar setiap malam 1 Suro, meski sempat terhenti selama pandemi Covid-19.
“Rancak gringsingan itu berarti sebuah keteraturan, sedangkan gringsingan adalah penawar dari sebuah luka. Jadi kegiatan ini menjadi cara untuk meruwat, merawat, dan tolak bala,” kata Faried kepada wartawan, Senin.
Menurut dia, prosesi berkeliling kampung dilakukan sambil berdoa, berzikir, dan menabuh berbagai alat pertanian. Bunyi-bunyian dari alat pertanian tersebut dipercaya sebagai simbol penjagaan sawah, sumber kehidupan, serta penolak bala.
“Kami juga menuju salah satu mata air tertua di Desa Kopen, yakni Umbul Sumber. Di sana kami melakukan sedekah air agar mata air tetap lestari, debitnya terjaga, dan memberi manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Dalam prosesi sedekah air, warga membawa berbagai hasil bumi dan jajanan pasar sebagai bentuk rasa syukur atas keberlimpahan alam yang telah diberikan.
Faried menjelaskan penggunaan obor memiliki makna sebagai simbol penerangan dalam kehidupan manusia. Sementara tradisi berjalan tanpa alas kaki menjadi simbol kedekatan manusia dengan alam.
“Tidak memakai sandal artinya membumi atau nyawiji dengan alam. Sedangkan obor menjadi simbol penerangan dalam kehidupan, karena manusia membutuhkan cahaya sebagai petunjuk,” jelasnya.
Ia menambahkan pemadaman lampu juga mengandung pesan filosofis agar manusia selalu mengingat bahwa pada akhirnya akan kembali ke kegelapan atau kematian.
“Lampu dimatikan sebagai pengingat bahwa manusia suatu saat akan kembali ke dalam tanah dan mengalami kegelapan. Jadi ada pesan refleksi diri dalam tradisi ini,” katanya.
Sebelum pelaksanaan Rancak Gringsingan, warga terlebih dahulu melakukan kegiatan bersih desa dan bersih sumber mata air. Sementara sehari setelah prosesi, warga dijadwalkan melakukan penanaman pohon sebagai bagian dari upaya pelestarian lingkungan.
Salah satu pemuda setempat, Muhammad Zaky Annafis, mengaku bangga masih bisa mengikuti tradisi yang diwariskan para leluhur tersebut.
“Biasanya anak muda banyak yang mulai lupa budaya Jawa. Kami senang masih diajak nguri-uri budaya seperti ini, apalagi dilakukan setiap tahun,” ujarnya.
Menurut Zaky, tradisi tersebut juga memiliki relevansi dengan isu lingkungan saat ini. Mematikan lampu dan berjalan kaki tanpa alas kaki dinilainya sebagai simbol kepedulian terhadap bumi.
“Kami memaknai kegiatan ini sebagai bentuk kepedulian lingkungan. Mematikan lampu berarti menghemat energi, sementara berjalan kaki berarti mengurangi penggunaan bahan bakar. Jadi selain menjaga budaya, ada pesan menjaga bumi juga,” katanya.

Leave a Reply