Suaranusantara.media, SEMARANG — Harga ayam hidup di tingkat peternak di Jawa Tengah (Jateng) mengalami tekanan akibat melimpahnya produksi daging ayam ras sepanjang 2026. Kondisi surplus tersebut membuat pasar kesulitan menyerap seluruh hasil produksi peternak sehingga berdampak pada penurunan harga di tingkat produsen.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Disntanak) Jateng, Defransisco Dasilva Tavarez atau Frans, mengatakan produksi daging ayam ras di Jawa Tengah pada 2026 diperkirakan mencapai 1,03 juta ton. Sementara kebutuhan masyarakat hanya sekitar 540.412 ton.
“Artinya produksi kita hampir dua kali lipat dari kebutuhan,” kata Frans kepada Espos, Sabtu (13/6/2026).
Menurut Frans, perhitungan kebutuhan tersebut telah memasukkan kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Meski demikian, besarnya produksi tetap menyebabkan kelebihan pasokan yang sulit diserap pasar.
Untuk komoditas telur ayam, produksi sepanjang 2026 diperkirakan mencapai 938.219 ton. Sementara kebutuhan masyarakat berada di angka sekitar 931.000 ton sehingga masih terdapat surplus sekitar 7.116 ton.
Beli Telur dari Peternak Lokal
Terpisah, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, meminta seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG di 35 kabupaten/kota memprioritaskan pembelian bahan pangan dari peternak lokal.
Menurut Gus Yasin, keberadaan ribuan dapur MBG seharusnya dapat menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat, khususnya bagi peternak, petani, nelayan, koperasi, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Adanya SPPG ini harus bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi yang ada di masyarakat,” kata Gus Yasin dalam keterangan tertulis.
Ia mengungkapkan masih menerima laporan adanya peternak yang menjual telur dengan harga Rp20.000 hingga Rp21.000 per kilogram. Harga tersebut berada jauh di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) pemerintah yang ditetapkan sebesar Rp26.000 per kilogram.
“Kita ingin memastikan ekonomi masyarakat tumbuh. Jangan sampai bahan baku diambil dari masyarakat tetapi harganya justru di bawah harga acuan pemerintah,” tegas pria yang juga menjabat Ketua Satgas Percepatan Program MBG Jateng tersebut.
Data Badan Gizi Nasional (BGN) menunjukkan kebutuhan telur untuk seluruh SPPG di Jawa Tengah mencapai rata-rata 720.902 kilogram per pekan. Namun angka tersebut masih jauh lebih kecil dibandingkan potensi produksi telur di Jawa Tengah yang mencapai jutaan ton per tahun.
Sementara kebutuhan daging ayam untuk program MBG mencapai sekitar 1.452.587 kilogram per pekan atau setara 75,5 ribu ton per tahun. Jumlah itu hanya sekitar 1,3% dari total potensi produksi ayam di Jawa Tengah.
Pemerintah berharap program MBG tidak hanya berfungsi sebagai upaya pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga mampu menjadi instrumen stabilisasi pasar dan penopang ekonomi peternak lokal di tengah kondisi surplus produksi yang sedang terjadi.

Leave a Reply