Suaranusantara.media, SOLO – Sebanyak 10 finalis lomba mural bertema Harmony of Solo menyelesaikan menggambar pagar Gereja Purbayan Paroki Santo Antonius Padua Purbayan, Jl Sugiyopranoto, Solo, Rabu (10/6/2026).
Salah satunya Tim Dodot Asmoro yang terdiri dari pasangan asal Bekasi, Dodot Asmoro dan Nora. Ia menggunakan berbagai unsur mulai dari pariwisata, keragaman budaya, suku, etnis, agama, daun sirih, serta salah satu burung yang mencirikan Kota Solo dalam muralnya.
Nora mengaku memiliki talenta menggambar yang biasa dituangkan melalui berbagai media mulai media digital hingga media tembok. Ia bersama Dodot sering mengikuti kompetisi mural dan menjadi pemenang.
“Kami memberikan gambar seperti yang sudah ditentukan oleh panitia lalu kami lolos dalam audisi dan kami diundang untuk mengikuti lomba di Solo. Kebetulan ini salah satu lokasi yang paling jauh yang kami datangi,” kata dia kepada Espos.
“Jujur, kami baru pertama ini berkunjung ke Solo. Ini kesempatan pertama, kami akan merasakan tengklengnya, kulinernya. Kami tadi dari Stasiun Jebres melihat di sepanjang jalan banyak gambar-gambar di tembok,” lanjut dia.
Menurut dia, banyak warga Solo yang antusias dengan mural dan karya yang indah. Namun banyak juga yang hanya asal coret-coret. Sementara kondisi di Jakarta dan Bekasi sangat ketat dalam kegiatan mural.
Ia mengajak warga Solo untuk menjaga pagar tembok Gereja Purbayan setelah lomba mural selesai. Para peserta telah menuangkan ide serta berkompetisi secara ketat sehingga hasil karya harus dijaga bersama.
Sementara itu, tim lain yang terdiri dari Imam Bawon dan Rizky Romansyah menggambar patung tradisional Jawa Loro Blonyo berupa sepasang perempuan dan laki-laki sebagai tanda kesejahteraan dan kesuburan.
Selain itu, Iman dan Rizky juga membuat visual-visual yang menandakan bahwa Solo sebagai kota budaya, kota perdagangan dengan simbol Pasar Gede Hardjonagoro, dan kota pendidikan dengan adanya berbagai perguruan tinggi.
Wadah Kreasi Anak Muda
Imam dan Rizky pernah mengikuti lomba mural. Terbaru mereka menang lomba mural yang diselenggarakan di Kota Surabaya. Warga Solo tersebut ingin mengukir prestasi serupa di Kota Bengawan.
Menurut Imam, lomba mural dibutuhkan sebagai wadah bagi anak-anak muda untuk berkreasi. Selain itu, mural tujuannya untuk memperindah kota serta menyuarakan tentang pesan-pesan tertentu.
Imam mengatakan pagar Gereja Purbayan bakal cantik dengan karya peserta lomba. Ia memberikan saran agar kawasan gereja diramaikan dengan aktivitas wisata pada momen-momen tertentu, misalnya seperti agenda di Koridor Gatot Subroto (Gatsu).
“Di Gatsu ada event sehingga warga rasa memiliki rasa memiliki. Sebelum ada event itu, di Gatsu sudah ada mural lalu ada coretan yang merusak mural,” ujar dia.
Kepala Paroki St Antonius Padua Purbayan Walterus Teguh Santosa menjelaskan pagar tembok Gereja Purbayan kerap menjadi sasaran vandalisme meskipun pengurus gereja berkali-kali mengecat tembok.
“Gereja Purbayan berulang tahun ke- 110 dan kami sudah berencana untuk memural tembok ini dengan tema wayang beber dengan pluralisme dalam bingkai Pancasila. Kemudian kami kolaborasi dengan Pemkot Solo,” ujar dia.
Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani menjelaskan Pemkot Solo bersama Gereja Purbayan menggelar lomba mural bertema Harmony of Solo dalam rangka memperingati Hari Jadi Pemkot Solo.
Dia mengatakan ada 71 peserta dari berbagai daerah yang mengirimkan desain mural. Sebanyak 10 kelompok terpilih menjadi finalis untuk menghiasi pagar tembok Gereja Purbayan.
“Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk menjaga ruang publik, sarana-prasarana, keindahan kota, estetika ini perlu menjadi perhatian, dan kewajiban kami bersama sebagai warga Solo. Jadi nanti sudah dihias baik bagus dari gereja saya kira perlu kita jaga bersama. Jadi tidak hanya dari pihak gereja saja tetapi seluruh komponen masyarakat,” ujar dia.
Leave a Reply