Suaranusantara.media, JAKARTA — Dua presiden dari dua negara besar di dunia yakni Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping bertemu di China pada Rabu-Kamis (13-14/5/2026). Lawatan tersebut menarik karena terjadi di tengah situasi ekonomi global yang tidak menentu.
Perhatian dunia tertuju pada kemungkinan munculnya perkembangan penting terkait perang Iran maupun isu Taiwan dalam agenda pembicaraan dengan Presiden China Xi Jinping. Trump tiba di Beijing pada Rabu malam didampingi para eksekutif perusahaan besar Amerika Serikat.
Dia pun berharap dapat mengamankan kesepakatan bisnis besar antara dua negara dengan perekonomian terbesar dunia, meskipun hubungan dagang AS dan China sejak lama diwarnai friksi dan persaingan teknologi.
“Dia adalah sosok yang memiliki hubungan baik dengan kami. Saya pikir Anda akan melihat hal-hal baik akan terjadi. Ini akan menjadi perjalanan yang sangat menarik,” kata Trump mengenai Xi seperti dilansir Antara dari Kyodo.
Di sisi lain, banyak pejabat di Asia dan kawasan lain lebih menyoroti peluang penyelesaian perang yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak akhir Februari 2026, serta kemungkinan perubahan sikap resmi Washington terkait Taiwan.
Sebelum berangkat ke Beijing, Trump mengatakan akan melakukan pembicaraan panjang dengan Xi mengenai konflik di Timur Tengah. China merupakan pembeli terbesar minyak mentah Iran dan menjadi penopang penting ekonomi Teheran.
Di tengah minimnya kemajuan pembicaraan tentang upaya pembukaan kembali Selat Hormuz, Trump diperkirakan akan meminta Xi “mendesak” Iran agar mau mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat. Meski demikian, Trump pada Selasa (12/5/2026) mengatakan Amerika Serikat tidak membutuhkan bantuan China terkait Iran.
Sehari sebelumnya, Trump juga menyatakan akan membahas penjualan senjata AS ke Taiwan dengan Xi. China menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan menolak penjualan senjata asing kepada pulau yang berpemerintahan sendiri itu.
Pada Desember 2025, Trump mengumumkan paket penjualan senjata senilai 11 miliar dolar AS (sekitar Rp192,7 triliun) ke Taiwan, yang memicu reaksi keras Beijing.
Kunjungan Pertama setelah 9 Tahun
Sementara itu, kunjungan Trump ke China menjadi lawatan pertama bagi Presiden Amerika Serikat ke China sejak November 2017. Saat itu, Trump datang ke Beijing pada masa jabatan pertamanya.
Kunjungan kenegaraan ini diharapkan bisa membangun hubungan China-AS lebih strategis, konstruktif, dan stabil. Selama lebih dari setahun terakhir, Presiden China Xi Jinping dan Presiden Trump terus menjalin komunikasi yang baik, termasuk melalui sejumlah panggilan telepon hingga pertemuan yang sukses di Busan, Korea Selatan.
Sejak pertemuan di Busan pada Oktober 2025, hubungan China-AS telah mempertahankan kestabilan secara keseluruhan dan momentum positif, sebuah perkembangan yang disambut baik oleh kedua negara maupun komunitas internasional.
Sebagaimana dikatakan Xi, dialog lebih baik daripada konfrontasi. Kedua pihak harus berpandangan luas dan mengakui manfaat jangka panjang dari kerja sama. Sementara itu, dunia saat ini tengah dihadapkan pada banyak tantangan kompleks. China dan AS dapat bersama-sama memikul tanggung jawab sebagai negara besar.
Tahun ini, baik China maupun AS memiliki poin-poin penting dalam agenda masing-masing. China telah memulai periode Rencana Lima Tahun ke-15 (2026-2030).
Sementara itu, AS akan merayakan 250 tahun kemerdekaannya. China juga akan menjadi tuan rumah Pertemuan Pemimpin Ekonomi APEC, sedangkan AS akan menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kelompok 20 (Group of 20/G20).
Rakyat kedua negara serta komunitas internasional sama-sama berharap dapat melihat perkembangan hubungan China-AS yang sehat dan stabil, yang menguntungkan kedua negara dan dunia secara luas.

Leave a Reply